KONSERVASI HUTAN MANGROVE SEBAGAI WISATA PENDIDIKAN DI ESTUARI JEMBRANA, BALI - Sahabat Travel

Breaking

Sahabat Travel

This Web is under maintenance.

Follow us

test banner

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Thursday, May 10, 2012

KONSERVASI HUTAN MANGROVE SEBAGAI WISATA PENDIDIKAN DI ESTUARI JEMBRANA, BALI


Ekosistem wilayah pantai berkarakter unik dan khas karena merupakan pertemuan antara ekosistem daratan dan ekosistem lautan. Ekosistem wilayah itu memiliki arti strategis karena memiliki potensi kekayaan hayati baik dari segi biologi, ekonomi bahkan pariwisata. hal itu mengakibatkan berbagai pihak ingin memanfaatkan secara maksimal potensi tersebut.

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki hutan mangrove terbesar dan memiliki kekayaan hayati yang paling banyak. Luas ekosistem mangrove di Indonesia mencapai 75% dari total mangrove di Asia Tenggara, atau sekitar 27% dari luas mangrove di dunia. Kekhasan ekosistem mangrove Indonesia adalah memiliki keragaman jenis yang yang tertinggi di dunia. Sebaran mangrove di Indonesia terutama di wilayah pesisir Sumatera, Kalimantan dan Papua. Luas penyebaran mangrove terus mengalami penurunan dari 4,25 juta hektar pada tahun 1982 menjadi sekitar 3,24 juta hektar pada tahun 1987, dan tersisa seluas 2,50 juta hektar pada tahun 1993. Kecenderungan penurunan tersebut mengindentifikasikan bahwa terjadi degradasi hutan mangrove yang cukup nyata, yaitu sekitar 200 ribu hektar/tahun. (DepHut,2009).

Hutan mangrove disepanjang Pantai Jembrana Bali diambang kepunahan. Terancamnya keberadaan hutan mangrove disebabkan adanya desakan kepentingan pengembangan kawasan industri, pemukiman dan budaya perikanan payau. Hal ini dipicu oleh belum ditetapkannya Rencana Tata Ruang Wilayah Regional Pesisir Pantai (Kompas, 2004).Hal ini dapat dilihat dengan tidak adanya "GREEN BELT" (Sabuk Hijau) disepanjang Pantai Utara dan Jembrana Bali. Berdasarkan Ketetapan Pemerintah tentang Ekosistem Pantai tentang sabuk hijau yaitu berjarak 400 meter dari garis pantai dan 10 meter dari muara sungai. Kenyataan yang ada disepanjang Pantai Jembrana dan Utara Bali tidak ditemui adanya sabuk hijau sepanjang itu, hanya 10 - 20 meter dari garis pantai bahkan pada muara sungai hampir tidak ditemukan mangrove.

Berdasarkan permasalahan yang ada diperlukan suatu solusi untuk memecahkan permasalahan tersebut. Peran serta masyarakat, pemerintah dan pendidikan sangat diperlukan. Potensi yang ada didalam ekosistem hutan mangrove sangat banyak yang dapat digali. Salah satu hal yang dapat dikembangkan yaitu merehabilitasi hutan mangrove melalui konsep pendidikan wisata pedidikan.

Mangrove adalah suatu komunitas tumbuhan atau suatu individu jenis tumbuhan yang membentuk komunitas tersebut didaerah pasang surut, hutan mangrove atau yang sering disebut hutan bakau merupakan sebagian wilayah ekosistem pantai yang mempunyai karakter unik dan khas dan memiliki potensi kekayaan hayati. Ekosistem mangrove adalah suatu sistem yang terdiri atas lingkungan biotik dan abiotik yang saling berinteraksi di dalam suatu habitat mangrove.

Keanekaragaman Jenis Mangrove

Hutan mangrove juga menyediakan habitat alami yang unik bagi berbagai macam flora dan fauna laut serta air payau. Dalam dua dekade ini keberadaan ekosistem mangrove mengalami penurunan kualitas secara drastis. Saat ini mangrove yang tersisa hanyalah berupa komunitas - komunitas mangrove yang ada di sekitar muara - muara sungai dengan ketebalan 10 -100 meter, didominasi oleh Avicennia marina diikuti oleh jeni Rhizophora mucronata, Sonnerati alba dan Sonneratia caseolaris yang semuanya memiliki manfaat sendiri, misalkan pohon Avicennia memiliki kemampuan dalam mengakumulasi (menyerap dan menyimpan dalam organ daun, akar dan batang) logam berat pencemar, sehingga keberadaan mangrove dapat berperan untuk menyaring dan mereduksi tingkat pencemaran diperairan laut dan manfaat ekonomis seperti hasil kayu serta bermanfaat sebagai pelindung bagi lingkungan ekosistem daratan dan lautan.

Manfaat Mangrove

Mangrove atau yang sering disebut bakau memiliki beberapa manfaat bagi kehidupan sekitarnya yaitu :

1. Pemeliharaan Keakeragaman Fauna Hutan mangrove menyokong kehidupan hewan karena memberikan sumber makanan dan tempat untuk hidup. Jenis - jenis biota yang dijumpai di Pamurbaya antara lain : Reptilia, ikan dan hewan makrobentos. (Arisandi dkk, 2001)

2. Tempat Pemijahan Lingkungan mangrove memiliki produktifitas tinggi, menyediakan sumber energi berupa zat - zat makanan karena itu mangrove merupakan tempat berteduh dan mencari makan. (Arisandi dkk, 2001)

3. Habitat Penting Bagi Burung Beberapa jenis burung membutuhkan ekosistem mangrove sebagai tempat mencari makan dan bersarang. (Arisandi dkk, 2001)

4. Pencegah Banjir Kawasan Pamurbaya adalah daerah lahan basah yang berfungsi sebagai daeran antrian air (retention time zone) sehingga air hujan yang akan mengalir ke laut terlebih dahulu akan menggenangi daerah pantai Jembrana, untuk menunggu giliran mengalir ke laut. Apabila kawasan Pamurbaya peruntukannya menjadi pemukiman, maka lahan antrian akan hilang sehingga saat musim hujan tiba air hujan yang akan mengalir ke laut harus antri di tengah - tengah kota dan menyebakan banjir.(Arisandi dkk, 2001)

5. Bioakumulator Logam Berat Tingginya kandungan logam berat Cu, Cd dan Zn di dalam akar mangrove menunjukkan bahwa tumbuhan ini dapat mengakumulasi logam berat didalam jaringan tubuhnya. (Arisandi dkk, 2001)

6. Mengurangi resiko bahaya tsunami Tentu kita belum lupa kerusakan fatal dan tewasnya ratusan ribu orang di Aceh dan Sumatra Utara akibat gelombang Tsunami. Andai saja masyarakat serta pemerintah memahami dan menyadari arti penting mangrove untuk meminimalisasi dasyatnya hantaman gelombang lautan yang menerjang daratan, tentunya ekosistem mangrove tidak akan dibiarkan punah seperti saat ini.

Ekosistem mangrove juga merupakan perlindungan pantai secara almi untuk menguragi resiko terhadap bahaya Tsunami. Hasil penelitian yang dilakukan di Teluk Grajagan, Banyuwangi, Jawa Timur, menunjukkan bahwa dengan adanya ekosistem mangrove telah terjadi reduksi tinggi gelombang sebesar 0,7340 dan perubahan energi gelombang sebasar (E) = 19635,26 joule. (Pratikno,2002)

Konservasi Hutan Mangrove.

Ruang lingkup konservasi hutan mangrove meliputi usaha perlindungan, pelestarian alam dalam bentuk penyisihan areal sebagai kawasan suaka alam baik untuk perairan laut, pesisir dan hutan mangrove. Konservasi hutan mangrove mempunyai tujuan sebagai berikut :

a. Melestarikan vegetasi dengan habitat hutan mangrove dengan tipe - tipe ekosistem

b. Melindungi jenis – jenis biota dengan habitatnya yang terancam punah

c. Mengelola areal bagi pembiakan jenis – jenis biota yang bernilai ekonomi

d. Melindungi unsur – unsur yang mempunyai nilai sejarah dan budaya

e. Mengelola areal yang bernilai estetis dan memanfaatkan areal tersebut bagi usaha rekreasi, turisme, pendidikan, penelitian dan lain –lain

Fungsi Mangrove Sebagai Tempat Wisata

Mangrove sebagai tempat wisata selain mempynyai fungsi sebagai tempat wisata atau rekreasi juga mempunyai fungsi lain antara lain :

1. Areal perlindungan berlangsungnya fungsi ekosistem dan penyangga kehidupan lingkungan

2. Sarana untuk menciptakan kebersihan, kesehatan, keserasian dan keindahan

3. Terdapat perlindungan plasma nutfah

4. Sarana untuk mempengaruhi dan memperbaiki iklim mikro

5. Pengatur tata air.

Semuanya hanya bertujuan untuk pelestrian lingkungan terhadap hutan mangrove yang banyak sekali manfaat dan kegunaannya dan dapat memberikan masukan tambahan pendapatan daerah apabila tempat tersebut sukses menjadi kawasan wisata mangrove. Bagi kegiatan ekonomi, mata pencaharian penduduk akan bertambah sehingga meningkatkan taraf hidup ekonomi masyarakat pesisir, dan tidaklah mustahil bila mereka akan berganti profesi dari menjadi petani tambak udang yang selama ini terus membuka lahan mangrove untuk tambak menjadi penyedia jasa pariwisata mangrove di kawasan hutan mangrove pantai pesisir Bali Jembrana.

Konsep mangrove sebagai tempat wisata

Mangrove sebagai wisata mempunyai beberapa konsep atau tatanan sehingga tempat iti layak dijadikan sebagai wisata pendidikan:

1. Mempunyai Lembaga

Agar lembaga tersebut dapat berjalan dengan baik maka diperlukan seksi – seksi kerja, sebagai berikut :

a. Seksi Penelitian : Melaksanakan survey dan penelitian flora dan fauna yang berkaitan dengan mangrove

b. Seksi Pelatihan : Menyusun dan melaksanakan kegiatan pelatihan baik yang merupakan kegiatan rutin maupun permintaan pihak – pihak yang berrkepentingan

c. Seksi Informasi : Menyebarluaskan informasi mangrove melalui media cetak dan elektronik

d. Seksi Ekowisata : Melakukan pe-manduan wisata, pem-buatan spesimen dan pembuatan buku

e. Seksi Pendidikan Lingkungan : Me-laksanakan event, kelas dilapangan dan penanaman partisipasif bagi kalangan sekolah, universitas dan masyarakat umum yang ingin menge-tahui lebih jauh tentang mangrove

f. Seksi Manajemen : Mengorganisir dan mendukung semua kegiatan proyek

2. Adanya jalan sebagai sarana mengelilingi mangrove. Jalan terbuat dari kayu sepanjang panjang mangrove karena hanya dengan jalan kaki kita dapat mengelilingi mangrove

3. Tatanan mangrove tanpa merubah zonasi dari mangrove itu sendiri. Zonasi mangrove tidak dapat dirubah karena pohan mangrove memiliki akar khusus yang cocok sesuai dengan zonasi tersebut.

4. Tidak adanya pedagang liar yang berada di kawasan wisata. Kawasan ini bebas dari pedagang liar karena akan mengangu keindahan dan nilai estetika. Jika ada pedagang liar yang berada dikawasan wisata dikhawatirkan akan membuag bekas bungkus makanan.

Analisis Umum Hutan Mangrove di Kawasan Pantai Jembrana Bali

Pertambahan penduduk yang demikian cepat dan luas kawasan yang terbangun terutama di kawasan Pantai Jembrana Bali mengakibatkan adanya perubahan tata guna lahan dan pemanfaatan sumber daya alam secara berlebihan. Hutan mangrove di kawasan Pantai Jembrana Bali dengan cepat menjadi semakin menipis dan berakibat pada menurunnya kualitas lingkungan kawasan tersebut.

Ketebalan hutan mangrove sekarang yang hanya mencapai ± 10 meter menunjukkan bahwa luasan hutan mangrove sangat tidak memadai. Hal ini jika dihubungkan dengan Peraturan Daerah Propinsi Jawa Jembrana No.11 tahun 1991. Menurut Perda tersebut hutan mangrove diisyaratkan berjarak minimal 338 meter (130 X rata perbedaan air pasang tertinggi dan terendah tahunan dimana di Pantai Jembrana Bali, rata – rata perbedaan tersebut adalah 2,6 meter) dari garis pantai pasang surut terendah menuju kearah daratan, jarak tersebut sulit direalisasikan secara serentak karena dibelakang hutan mangrove yang tipis tersebut terdapat tambak – tambak yang produktif sehingga diperlukan pelaksanaan secara bertahap dengan dibarengi usaha pemantapan kesadaran petani tambak di lokasi sekitarnya.

Berdasarkan hasil observasi (pengamatan langsung) di lapangan teridentifikasi beberapa aktifitas yang berpotensi untuk merusak mangrove menjadi tambak dan pemukiman adalah

1. Alih guna lahan hutan mangrove menjadi tambak dan pemukiman di hampir semua areal hutan mangrove

2. Terjadinya pencemaran akibat menumpuknya sampah dimuara akan menutupi penetrasi matahari matahari dan mempersulit pengambilan 02 oleh daun, hal tersebut akan mengakibatkan kematian tanaman mangrove dewasa. Penutupan sampah khususnya sampah khususnya oleh sampah plastik juga akan mematikan kecambah (bibit mangrove)

3. Terjadinya penebangan liar mangrove oleh masyarakat di beberapa bagian hutan mangrove dan fauna di kawasan hutan mangrove.

Peningkatan pembangunan fasilitas fisik dan sarana utilitas kota di Bali secara tidak langsung mengakibatkan pada berkurangnya ruang terbuka hijau di Bali. Untuk menindak lanjuti berkurangnya Ruang Terbuka Hijau maka perlu dilakukan penelitian. Tujuan penelitian ini adalah untuk menyusun strategi pengembangan dan pengelolahan hutan mangrove di Pantai Jembrana Bali melalui konsep wisata pendidikan berdasarkan tinjauan 3 (tiga) aspek yaitu : aspek teknis (jenis mangrove, pola & teknik penanaman mangrove), aspek sosial (jumlah&kepadatan penduduk, peran serta dan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan hutan mangrove), aspek kelembagaan (dukungan Pemerintah Kota Bali, dukungan Peraturan Perundangan, Partisipasi LSM & kalangan Perguruan Tinggi) dengan tujuan untuk membentuk suatu kepedulian masyarakat dan unsur pendidikan dalam upaya rehabilitasi mangrove. Pengumpulan data menggunakan metode observasi (pengamatan) langsung, kuisioner penelitian dan metode dokumentasi sedangkan analisis yang digunakan adalah analisis korelatif dan analisis SWOT.

Potensi Ekowisata Mangrove

Menurut Dahuri (1996), alternative pemanfaatan ekosistem mangrove yang paling memungkinkan tanpa merusak ekosistem ini meliputi: penelitian ilmiah (scientific research), pendidikan (education), dan rekreasi terbatas/ekoturisme (limited recreation/ecoturism). Potensi rekreasi dalam ekosistem mangrove antara lain (Bahar, 2004):

a. Bentuk perakaran yang khas yang umum ditemukan pada beberapa jenis vegetasi mangrove seperti akar tunjang (Rhizophora spp.), akar lutu (Bruguiera spp.), akar pasak (Sonneratia spp., Avicenia spp.), akar papan(Heritiera spp.)

b. Buah yang bersifat viviparious (buah berkecambah semasa masih menempel pada pohon) yang terlihat oleh beberapa jenis vegetasi mangrove seperti Rhizophora spp. dan Ceriops spp.

c. Adanya zonasi yang sering berbeda mulai dari pinggir pantai sampai pedalaman (transisi zonasi).

d. Berbagai jenis fauna yang berasosiasi dengan ekosistem mangrove seperti beraneka ragam jenis burung, serangga dan primata yang hidup di tajuk pohon serta berbagai jenis fauna yang hidup di dasar mangrove seperti babi hutan, biawak, buaya, ular, udang, ikan, kerang-kerangan, keong, kepiting dan sebagainya

e. atraksi adat istiadat masyarakat setempat yang berkaitan dengan sumberdaya mangrove

f. Hutan-hutan mangrove yang dikelola secara rasional untuk pertambakan tumpang sari dan pembuatan garam, bisa menarik wisatawan.

Potensi ini dapat dikembangkan untuk kegiatan lintas alam, memancing, berlayar, berenang, pengamatan jenis burung dan atraksi satwa liar, fotografi, pendidikan, piknik dan berkemah, serta adat istiadat penduduk lokal yang hidupnya bergantung pada keberadaan hutan mangrove.

Sifat pengunjung Ekowisata

Sifat dan karakteristik dari ekowisatawan adalah mempunyai rasa tanggung jawab sosial terhadap daerah wisata yang dikunjunginya. Kunjungan yang terjadi dalam satu satuan tertentu yang mereka lakukan tidak hanya terbatas pada sebuah kunjungan dan wisata saja. Wisatawan ekowisata biasanya lebih menyukai perjalanan dalam kelompok-kelompok kecil sehingga tidak mengganggu lingkungan disekitarnya. Daerah yang padat penduduknya atau alternatif lingkungan yang serba buatan dan prasarana lengkap kurang disukai karena dianggap merusak daya tarik alami.

Secara khusus, ekowisatawan mempunyai karakteristik sebagai berikut:

  1. Menyukai lingkungan dengan daya tarik utama adalah alam dan budaya masyarakat lokal, dan mereka juga biasanya mencari pemandu yang berkualitas
  2. Kurang memerlukan tata krama formal (amenities) dan juga lebih siap menghadapi ketidaknyamanan, meski mereka masih membutuhkan pelayanan yang sopan dan wajar, sarana akomodasi dan makanan yang bersih
  3. Sangat menghargai nilai-nilai (high value) dan berani membayar untuk suatu daya tarik yang mempesona dan berkualitas
  4. Menyukai daya tarik wisata yang mudah dicapai dengan batasan waktu tertentu dan mereka tahu bahwa daya tarik alami terletak didaerah terpencil.

Partisipasi Masyarakat Lokal

Untuk meningkatkan pengelolaan ekosistem mangrove, perlu dilibatkan masyarakat dalam menyusunan proses perencanaan dan pengelolaan ekosistem ini secara lestari. Dalam pengelolaan secara lestari dapat dikembangkan metodemetode sosial budaya masyarakat setempat yang bersahabat dengan ekosistem mangrove, dalam bentuk penyuluhan, penerangan dan membangkitkan kepedulian masyarkat dalam berperan serta mengelola ekosistem mangrove (Bengen dan Adrianto, 1998).

Menurut Suratmo (1990), manfaat dari partisipasi masyarakat dalam sebuah rencana pembangunan adalah sebagai berikut:

  1. Masyarakat mendapat informasi mengenai rencana pembangunan di daerahnya
  2. Masyarakat akan ditingkatkan pengetahuan mengenai masalah lingkungan, pembangunan dan hubungannya
  3. Masyarakat dapat menyampaikan informasi dan pendapat atau persepsinya terhadap pemerintahan terutama masyarakat di tempat pembangunan yang terkena dampak langsung
  4. Dapat menghindari konflik di antara pihak-pihak yang terkait
  5. Masyarakat akan dapat menyiapkan diri untuk menerima manfaat yang akan dapat dinikmati dan menghindari dampak negatifnya
  6. Akan meningkatkan perhatian dari instansi pemerintah yang terkait pada masyarakat setempat.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here