PRAKTIKUM OSEANOGRAFI "MAKROFAUNA BENTIK" - Sahabat Travel

Breaking

Sahabat Travel

This Web is under maintenance.

Follow us

test banner

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Tuesday, May 22, 2012

PRAKTIKUM OSEANOGRAFI "MAKROFAUNA BENTIK"

PRAKTIKUM OSEANOGRAFI

MAKROFAUNA BENTIK

Kelompok I

Mohammad Muhibbul Ibad (1509100009)

PROGRAM STUDI BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER

SURABAYA

Abstractedly

Makrofauna bentik constitutes oraginisme the living one on substrat a role that have body measure is more than 0,5 mm. this makrofauna bentik's attempt aims for menganalisis makrofauna bentik's sample and knows physical factor and hidrooseanografi what does regard makrofauna bentik's existence and profusion at one particular waters. Attempt is done at intertidal's area kenjeran's beach Nambangan's village Surabaya upon blows over. Samples taking location lie on 50 m of shorelines with size plotted 50x50 cm.

Sample at takes to laboratory, screened by dangan rated filter and gotten by beings of sorting results. Being that gotten by diklasifiksasikan according to type it for then identified dangan gears on being species name already is at laboratory.

Of identifikkasi's result gotten by infauna's type covers Hemidonax donaciformis, Astyril rosaceae, F. littoriniade, Boreotrophon sp, Tonna sp, Volema myristica, Flastula hetica, and Mactridae. Available more a lot of epifauna's type because location have muddy sediment type so sedimentary unstable with grain size that little one enables its life makrofauna bentik infauna's type.

Nature factor that can regard existence makrofauna bentik is, factor

environmental chemical physics waters, which is influential light penetration on water temperature, chemical element content as oxygen dissolved and obstetric hydrogen ion (pH), substrat is basic and nutrient, and also ala biologis, amongst those is species interaction and cycle pattern live of each in community species.

Abstrak

Makrofauna bentik merupakan oraginisme yang hidup pada substrat suatu suatu peranan yang memiliki ukuran tubuh lebih dari 0,5 mm. percobaan makrofauna bentik ini bertujuan untuk menganalisis sampel makrofauna bentik serta mengetahui faktor-faktor fisik dan hidrooseanografi yang mempengaruhi keberadaan dan kelimpahan makrofauna bentik pada suatu perairan. Percobaan dilakukan di kawasan intertidal pantai kenjeran desa Nambangan Surabaya pada saat surut. Lokasi pengambilan sampel berada pada 50 m dari garis pantai dengan ukuran plot 50x50 cm.

Sampel di bawa ke laboratorium, disaring dangan saringan bertingkat dan didapatkan organisme-organisme dari hasil penyortiran. Organisme yang didapatkan diklasifiksasikan menurut jenisnya untuk kemudian diidentifikasi dangan mencocokkan pada nama spesies organisme yang telah ada di laboratorium.

Dari hasil identifikkasi didapatkan jenis infauna meliputi Hemidonax donaciformis, Astyril rosaceae, F. littoriniade, Boreotrophon sp, Tonna sp, Volema myristica, Flastula hetica, dan Mactridae. Terdapat lebih banyak jenis epifauna karena lokasi memiliki tipe sedimen berlumpur sehingga sedimen labil dengan grain size yang kecil yang memungkinkan hidupnya makrofauna bentik jenis infauna.

Faktor alam yang dapat mempengaruhi keberadaan makrofauna bentik adalah faktor abiotik dan biotik, faktor abiotik meliputi faktor fisika-kimia lingkungan perairan, yaitu penetrasi cahaya yang berpengaruh pada suhu air, kandungan unsur kimia seperti oksigen terlarut dan kandungan ion hidrogen (pH), substrat dasar dan nutrien, dan juga secara biotik diantaranya adalah interaksi spesies serta pola siklus hidup dari masing-masing spesies dalam komunitas.


PENDAHULUAN


Makrofauna merupakan sejumlah organisme yang ukuran tubuhnya lebih besar dari 0,5 mm. Sedangkan bentik sendiri berkenaan dengan bentos, yaitu organisme perairan yang hidupnya terdapat pada substrat dasar dari suatu perairan, baik yang bersifat sesil (melekat) maupun yang bersifat vigil (bebas bergerak). Sehingga dapat didefinisikan kembali bahwa makrofauna bentik merupakan organisme (hewan) yang hidup pada substrat suatu perairan yang memiliki ukuran tubuh lebih dari 0,5 mm.

Makrofauna sendiri dibagi atas dua kelompok berdasarkan posisinya, yaitu epifauna dan infauna. Epifauna merupakan organisme-organisme bentik yang hidup diatas ataupun berasosiasi dengan permukaan dari dasar perairan. Sedangkan infauna merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan organisme-organisme yang hidup di dalam substrat.

Permasalahan dalam praktikum ini adalah Bagaimana cara pengambilan sample makrofauna bentik dengan metode standard, Bagaimana menganalisis sampel makrofauna bentik di laboratorium, Apa sajakah yang membedakan antara makrofauna dan epifauna, Apa sajakah factor-faktor fisik dan hidro-oseanografi yang mempengaruhi keberadaan dan kelimpahan makrofauna bentik pada sutu perairan.

Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui cara pengambilan sample makrofauna bentik dengan metode standard, menganalisis sample makrofauna bentik di laboratorium, membedakan antara makrofauna dan epifauna, mengerti faktor-faktor fisik dan hidro-oseanografi yang mempengaruhi keberadaan dan kelimpahan makrofauna bentik pada sutu perairan.

Zoobentos merupakan hewan yang sebagian atau seluruh siklus hidupnya berada di dasar perairan, baik yang sesil, merayap maupun menggali lubang. Hewan ini memegang beberapa peran penting dalam perairan seperti dalam proses dekomposisi dan mineralisasi material organik yang memasuki perairan, serta menduduki beberapa tingkatan trofik dalam rantai makanan (Anonimous, 2002).

Zoobentos membantu mempercepat proses dekomposisi materi organik. Hewan bentos, terutama yang bersifat herbivor dan detritivor, dapat menghancurkan makrofit akuatik yang hidup maupun yang mati dan serasah yang masuk ke dalam perairan menjadi potongan-potongan yang lebih kecil, sehingga mempermudah mikroba untuk menguraikannya menjadi nutrien bagi produsen perairan (Anonimous,2002).

Berbagai jenis zoobentos ada yang berperan sebagai konsumen primer dan ada pula yang berperan sebagai konsumen sekunder atau konsumen yang menempati tempat yang lebih tinggi. Pada umumnya, zoobentos merupakan makanan alami bagi ikan-ikan pemakan di dasar ("bottom feeder") (Anonimous 2002).

Berdasarkan ukurannya, zoobentos dapat digolongkan ke dalam kelompok zoobentos mikroskopik atau mikrozoobentos dan zoobentos makroskopik yang disebut juga dengan makrozoobentos. Makrozoobentos dapat mencapai ukuran tubuh sekurang-kurangnya 3 - 5 mm pada saat pertumbuhan maksimum. Makrozoobentos dapat ditahan dengan saringan No. 30 Standar Amerika. Makrozoobentos merupakan organisme yang tertahan pada saringan yang berukuran besar dan sama dengan 200 sampai 500 mikrometer. (Anonimous,2002)

Berdasarkan keberadaannya di dasar perairan, maka makrozoobentos yang hidupnya merayap di permukaan dasar perairan disebut dengan epifauna, seperti Crustacea dan larva serangga. Sedangkan makrozoobentos yang hidup pada substrat lunak di dalam lumpur disebut dengan infauna, misalnya Bivalve dan Polychaeta (Anonimous,2002).

Organisme yang termasuk makrozoobentos diantaranya adalah: Crustacea, Isopoda, Decapoda, Oligochaeta, Mollusca, Nematoda dan Annelida. Taksa-taksa tersebut mempunyai fungsi yang sangat penting di dalam komunitas perairan karena sebagian dari padanya menempati tingkatan trofik kedua ataupun ketiga. Sedangkan sebagian yang lain mempunyai peranan yang penting di dalam proses mineralisasi dan pendaurulangan bahan-bahan organik, baik yang berasal dari perairan maupun dari daratan (Anonimous,2002).

Sebagai organisme dasar perairan, bentos mempunyai habitat yang relatif tetap. Dengan sifatnya yang demikian, perubahan-perubahan kualitas air dan substrat tempat hidupnya sangat mempengaruhi komposisi maupun kelimpahannya. Komposisi maupun kelimpahan makrozoobentos bergantung pada toleransi atau sensitivitasnya terhadap perubahan lingkungan. Setiap komunitas memberikan respon terhadap perubahan kualitas habitat dengan cara penyesuaian diri pada struktur komunitas. Dalam lingkungan yang relatif stabil, komposisi dan kelimpahan makrozoobentos relatif tetap (Anonimous,2002).

Spesies makrozoobentos berdasarkan kepekaannya terhadap pencemaran karena bahan organik, yaitu kelompok intoleran, fakultatif dan toleran. Organisme intoleran yaitu organisme yang dapat tumbuh dan berkembang dalam kisaran kondisi lingkungan yang sempit dan jarang dijumpai di perairan yang kaya organik. Organisme ini tidak dapat beradaptasi bila kondisi perairan mengalami penurunan kualitas. Organisme fakultatif yaitu organisme yang dapat bertahan hidup pada kisaran kondisi ling-kungan yang lebih besar bila dibandingkan dengan organisme intoleran. Walaupun organisme ini dapat bertahan hidup di perairan yang banyak bahan organik, namun tidak dapat mentolerir tekanan lingkungan. Organisme toleran yaitu organisme yang dapat tumbuh dan berkembang dalam kisaran kondisi lingkungan yang luas, yaitu organisme yang sering dijumpai di perairan yang berkualitas jelek. Pada umumnya organisme tersebut tidak peka terhadap berbagai tekanan lingkungan dan kelimpahannya dapat bertambah di perairan yang tercemar oleh bahan organik. Jumlah organisme intoleran, fakultatif dan toleran dapat menunjukkan derajat pencemaran (Anonimous,2002).

Makrozoobentos dapat bersifat toleran maupun bersifat sensitif terhadap perubahan lingkungan. Organisme yang memiliki kisaran toleransi yang luas akan memiliki penyebaran yang luas juga. Sebaliknya organisme yang kisaran toleransinya sempit (sensitif) maka penyebarannya juga sempit (Anonimous,2002).

Pembagian bentos menurut ukurannya,

- Macrobentos, ukuran 400-1000 µm. merupakan bentos dengan ukuran terbesar, termasuk insecta pada sedimen lunak.

- Meiobentos, ukuran kurang dari 400-1000 µm, terdiri dari rosifera copepoda, chironomida muda, oligochaeta kecil dan nematoda.

- Microbentos, ukuran kurang dari 100 µm, terdiri dari spesies kecil termasuk protozoa dan juvenil yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang (Klaff,2002).

Lingkungan air tawar bila dilihat secara keseluruhan, ganggang adalah produsen terpenting dan sermatophyte aquatik menempati posisi kedua. Kecuali Potamegeton dan Lemna sp, kebanyakan tanaman tinggi akuatik adalah anggota keluarga yang beraneka ragam yang sebagian besar anggotanya adalah tanaman darat (Odum,1993).

Diantara hewan konsumen, 4 kelompok menuysun sebagian besar biomasa dari kebanyakan ekosisitem air tawar, yaitu molusca, serangga air, udang-udangan dan ikan. Annelida, Rotifera, Protozoa dan cacing umumnya kurang penting, walau dalam kasus tertentu salah satu kelompok ini dapat tempak besar dalam ekosistem (Odum,1993).

Diantara saprotof, bakteri dan jamur air tampaknya sama pentingnya dalam penampilannya sebagai pengurai vital bahan organik menjadi bahan anorganik yang dapat digunakan kembali oleh produsen. Bakteri dan jamur paling penting dalam zona dimana terdapat sejumlah besar detritus organik (dan dalam air yang tercemar dengan bahan organik) junlah mereka berkurang pada air limnetik yang tidak tercemar (Odum,1993).

Penggunaan makrozoobentos sebagai indikator kualitas perairan dinyatakan dalam bentuk indeks biologi. Cara ini telah dikenal sejak abad ke 19 dengan pemikiran bahwa terdapat kelompok organisme tertentu yang hidup di perairan tercemar. Jenis-jenis organisme ini berbeda dengan jenis-jenis organisme yang hidup di perairan tidak tercemar. Kemudian oleh para ahli biologi perairan, penge-tahuan ini dikembangkan, sehingga perubahan struktur dan komposisi organisme perairan karena berubahnya kondisi habitat dapat dijadikan indikator kualitas perairan (Anonimous,2002).

Ada beberapa alasan dalam pemilihan bentos sebagai indikator kualitas di suatu ekosistem air, yaitu :

- Pergerakannya yang sangat terbatas senhingga memudahkan pengambilan sampel.

- Ukuran tubuh relatif besar sehingga

relatif mudah untuk diidentifikasi.

- Hidup di dasar perairan serta relatif diam, sehingga secara terus menerus terdesak oleh kondisi air sekitarnya.

- Pendesakan yang terus menerus mengakibatkan bentos sangat terpengaruh oleh berbagai perubahan lingkungan yang mempengaruhi kondisi air tersebut.

- Perubahan faktor-faktor lingkungan ini akan mempengaruhi keankaragaman komunitas bentos (Barus,2002).

METODOLOGI

Peralatan yang digunakan dalam melakukan praktikum ini antara lain saringan bertingkat, kantong plastik tebal (volume 1 kg),GPS , tali raffia, label dan lembar kerja.

Pertama, mengukur koordinat posisi dengan menggunakan GPS. Setelah itu membuat transek, transek dibuat dengan ukuran 0,5 m x 0,5 m. Setiap satu transek yang lain berjarak 25 m. Kemudian sampel diambil dan dimasukkan ke dalam kantong plastik yang sudah disiapkan, setelah itu kantong diberi label untuk setiap transek dan kegiatan pemisahannya dilakukan di laboratorium dengan menggunakan saringan betingkat, dimana saringan dengan mesh-size terbesar diletakkan pada urutan paling atas dan yang paling kecl berada pada bagian bawah, begitu secara berurutan. Kemudian digunakan air yang dialirkan secara perlahan-lahan untuk mempermudah penyaringan. Sampel makrobentos yang telah terpisahkan dari sedimen kemudian dikering-anginkan. Sampel makrobentos kemudian disortir, penyortiran pertama yaitu menyeleksi substrat bentos atau bukan, setelah itu bentos yang didapat kemuudian diidentifikasi dengan bentos yang telah teridentifikasi yang disediakan di laboratorium. Sampel yang telah teridentifikasi dikelompokkan lagi menjadi dua kelompok besar, yaitu infauna dan epifauna.

HASIL

Koordinat Titik :

South : 07,2257 0

East : 112,78873 0

A. Pengambilan sampel di pantai

No

Perlakuan

pengamatan

1.

Ditentukan

dua titik pengambilan sampel, diusahakan tegak lurus dengan batas pantai

Plot pertama dan kedua berjarak 25 m dari garis pantai dan plot kedua berjarak 25 m dari plot ketiga

2.

Diambil

sedimen dengan cetok kemudian diangkat dan dimaasukkan dalam kantong plastik dan diberi label

Sedimen berupa lumpur berwarna hitam bercampur pasir.

B. Identifikasi sampel

1.

2.

Disaring dengan saringan dua tingkat

Disortir, antara organisme bentos dengan yang bukan bentos

Terdapat substrat hasil penyaringan dengan berbagai ukuran.

Terdapat 8 jenis bentos, natara lain :

a. Hemidonax donaciformis

(infauna)

b. Astyris rosaceae

(epifauna)

c. F. littoriniade

(eifauna)

d. Boreotrophon sp

(epifauna)

e. Tonna sp

(epifauna)

f. Volema myristica

(epifauna)

g. Terebralia sukata

(epifauna)

h. Mactra achatina

(infauna)

PEMBAHASAN

Percobaan Makrofauna Bentik ini bertujuan agar mahasiswa mampu melaksanakan metode standard pengambilan sampel makrofauna bentik, mahasiswa mampu melakukan analisis sampel makroinfauna dan epifauna dan membedakannya. Mahasiswa mengerti faktor-faktor fisik dan hidro-oseanografi yang mempengaruhi keberadaan dan kelimpahan makrofauna bentik pada suatu perairan.

Percobaan makrofauna bentik ini dilakukan di pantai Kenjeran desa Nambangan Surabaya, pada hari sabtu, 4 April 2008, waktu 07.00. Pada saat percobaan cuaca disekitar pantai cerah dengan batas South : 07,2257 dan East : 112,78873. pengambilan sampel untuk percobaan makrofauna bentik dilakukan di tepi pantai dengan menggunakan plot 50x50 cm dengan jarak antar plot adalah 50 cm (diasumsikan bahwa topografi pantai landai dan jenis subtrat tidak terlalu berbeda). Sebelum pengambilan sampel dilaksanakan perlu diambil data parameter lingkungan seperti suhu dan salinitas. Percobaan ini menggunakan metode transek yang dibuat tegak lurus garis pantai. Posisi transek dan plot ditandai dengan GPS. Pada tiap transek dibuat tiga plot. Semua sampel makro fauna bentik pada tiap plot diambil dengan menggunakan pipa paralon sedalam 10 cm. sampel beserta sedimennya dibawa ke Laboratorium untuk dipisahkan dan dianalisisi. Waktu pengambilan keadaan pantai sedang surut sehingga hal itu memudahkan Praktikum untuk pengmbilan sampel.

Setelah sedimen dibawa ke Laboratorium. Sedimen disaring dengan saringan bertingkat. Setelah itu hasil dianalisis. Dari analisis data pengamatan diperoleh beberapa jenis makrofauna bentik, diantaranya adalah Hemidonax donaciformis, Astyris rosaceae, F. littoriniade, Boreotrophon sp, Tonna sp, Volema myristica, Terebralia sukata, Mactra achatina. Dari yang ditemukan tersebut lalu dilakukan identifikasi lebih lanjut dan didapatkan :

1. Hemidonax donaciformis

Family: terebridae, class: Bivalvia, memiliki ukuran umum 3,5 cm maksimum, dan umumnya 2,5 cm. kebanyakan terdapat di pantai berpasir, berwarna putih bersih, strukturnya membentuk garis vertikal, permukaannya sedikit kasar.

2. Astyris rosaceae

Berwarna coklat muda, umumnya berukuran 1,5 cm, permukaannya halus, banyak terdapat di pantai pasir berlumpur.

3. F. littoriniade

Berukuran 2 cm, berwarna coklat pucat, permukaan halus, berbetnuk spiral yang memanjang, kebanyakan terdapat pada pantai pasir berlumpur.

4. Boreotrophon sp

Berukuran 2 cm, umumnya berukuran 4 cm, struktur permukaan cangkang nya halus bergelombang, memiliki corak garis-garis coklat, dengan warna cangkang dominan putih, kebanyakan terdapat di pantai berpasir.

5. Tonna sp

Berukuran 1,5 cm, berwarna coklat pucat, permukaan halus, membentuk spiral yang memendek, banyak ditemukan berkelompok, dan banyak terdapat di pantai berlumpur.

6. Volema myristica

Family: melongenidae, class: Gastropoda, kerang relatif kecil, panjang maksimum 8 cm, berwarna coklat krem, bersifat keras dan berat dan memiliki bentuk yang sangant bervariasi, tampak fisiknya tidak rata, kebanyakan terdapat pada pantai pasir berlumpur.

7. Terebralia sukata\

Family: Terebridae, class: Gastropods, berwarna coklat tua, dengan strip-strip horizontal warna putih, berukuran 5 cm, umumnya berukuran 2 cm, banyak terdapat di pantai berpasir.

8. Mactra achatina

Family: Mactridae, panjang maksimum 7,5 cm, umumnya 4,5 cm, hidup dalam bermacam-macam pasir dan banyak ditemukan di asia tneggara dan laut merah, memilki warna dominan putih, dengan sedikit corak warna coklat tua, permukaan cangkangnya halus.

Setelah diamati ternyata hasil dari percobaan kebanyakan diperoleh jenis epifauna, epifauna merupakan organisme-organisme bentik yang hidup diatas ataupun berasonasi dengan permukaan dari dasar perairan, sedangkan infauna yang merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan organisme-organisme yang hidup dalam substrat, hanya ditemukan 2 jenis, dari hasil tersebut didapat pengelompokan sebagai berikut :

Epifauna

Infauna

Astyris rosaceae

Hemidonax donaciformis

F. littoriniade

Mactra achatina

Boreotrophon sp

Tonna sp

Volema myristica

Terebralia sukata

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa group yang paling banyak adalah jenis epifauna, ini disebabkan karena sedimen yang ada di pantai Kenjeran desa Nambangan Surabaya tersebut memiliki tingkat kepekatan yang tinggi, dan juga lapisan sedimen yang rapat yang dominan teridiri dari lumpur menyebabkan organisme sulit untuk hidup pada kondisi tersebut, sehingga hanya jemis infauna tertentu yang bisa tinggal pada sedimen tersebut.

Makrofauna merupakan sejumlah organisme yang ukuran tubuhnya lebih besar dari 0,5 mm. sedangkan bentik sendiri berkenaan dengan bentos, yaitu organisme perairan yang hidupnya terdapa pada subtrat dasar dari suatu perairan, baik yang bersifat iesu (melekat) maupun yang bersifat vigi (bergerak bebas). Sehingga dapat didefinisikan kembali bahwa makrofauna bentik merupakan organisme (hewan) yang hidup pada substrat suatu peraian yang memilkiukuran tubuh lebih dari 0,5 mm.

KESIMPULAN

Dari percobaan yang telah dilakukan, maka dapat dambil kesimpulan bahwa dalam suatu ekosistem pantai memiliki jenis makrofauna bentik yang bervariasi, kenaekaragaman bentos yang ada di suatu perairan dipengaruhi oleh bergai faktor seperti, faktor fisika-kimia lingkungan perairan, diantaranya; penetrasi cahaya yang berpengaruh terhadap suhu air; substrat dasar; kandungan unsur kimia seperti oksigen terlarut dan kandungan ion hidrogen (pH), dan nutrien. Sedangkan secara biologis, diantaranya interaksi spesies serta pola siklus hidup dari masing-masing spesies dalam komunitas, bentos yang ada pada beberapa jarak dari garis pantai memiliki jenis bentos yang berbeda.

DAFTAR PUSTAKA

Anonimous.2002.tumoutou.net/702_04212/ardi.htm.diakses April 2008

Barus,T.Alexander.2002.Pengantar Limnologi.Biologi FMIPA UNSU: Medan

Kalff,Jacob.2002.Limnology.Prentice Hall: New Jersey

Odum,E.P.1993.Dasar-dasar Ekologi.UGM Press: Yogyakarta



LAMPIRAN 1

Gambar 1 : Mactra achatina Gambar 2 : Terebralia sukata

Gambar 3 : Boreotrophon sp Gambar 4 : Tonna sp

Gambar 5 : Hemidonax donaciformis Gambar 6 : Volema myristica


LAMPIRAN 2

Gambar 7 : (a) F. littoriniade (kiri), (b) Astyris rosaceae (kanan)

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here