Breaking News

IDENTIFIKASI MINERAL DAN BATUAN


MINERAL Mineral adalah suatu (fasa) padat dari unsur (kimia atau persenyawaan kimia) yang dibentuk oleh proses-proses anorganik dan mempunyai susunan kimia tertentu dari suatu penempatan atom-atom secara beraturan didalamnya atau yang dikenal sebagai struktur kristal

1. Jenis-jenis Mineral

Semua mineral mempunyai susunan kimiawi tertentu dan penyusunan atom-atom yang beraturan, maka setiap jenis mineral mempunyai sifat-sifat fisik tersendiri. Berikut beberapa sifat fisik mineral:

a. Bentuk kristal

Tujuh jenis sistem sambu dalam geologi adalah:

a) Sistem sumbu kubik

b) Sistem sumbu tetragonal

c) Sistem sumbu ortorombik

d) Sistem sumbu monoklin

e) Sistem sumbu triklin

f) Sistem sumbu heksagonal

g) Sistem sumbu rombohedral

b. Belahan atau pecahan

Apabila suatu kristal mendapatkan suatu tekanan yang melampaui batas-batas elastis dan plastisnya, maka pada akhirnya kristal akan pecah. Pecahan ini dibagi menjadi 4 yaitu:

a) Pecahan concoidal

Pecahannya seperti kulit bawang misalnya kuarsa.

b) Hackly

Pecahannya separti pecahan besi, tajam-tajam.

c) Unevon

Permukaan pecahannya kasar dan tidak beraturan seperti kebanyakan mineral.

d) Even

Bidang pecah agak kasar, tetapi kecil-kecil, masih mendekati bidang datar.

c. Kekerasan

Kekerasan adalah ukuran gaya tahan suatu permukaan rata terhadap goresan. Sehingga kekerasan mineral dapat diartikan sebagai daya tahan mineral terhadap goresan.

d. Berat jenis

Berat relatif dari suatu mineral diukur terhadap berat dari air, dan ukuran ini disebut sebagai berat jenis.

e. Kilap

Gejala ini terjadi jika mineral diberi cahaya refleksi dan kilap suatu mineral sangat penting untuk diketahui. Beberapa kilap yang biasa dipergunakan adalah sebagai berikut:


a) Kilap logam

b) Kilap sublo

c) Kilap intan

d) Kilap kaca

e) Kilap dammar

f) Kilap lemak

g) Kilap mutiara

h) Kilap sutera

i) Kilap tanah


f. Warna

Banyak mineral mempunyai warna khusus misalnya mineral azurite yang berwarna biru. Adapun mineral yang mengandung substansi-substansi lain yang dapat berubah warna aslinya. Misalnya mineral kuarsa murni memiliki warna putih akan tetapi kuarsa yang mengandung zat-zat asing dapat berwarna abu-abu ungu, dan sebagainya.

Mineral berbentuk batuan disusun oleh mineral-mineral dari mineral utama, mineral pengirim (tambahan) sampai mineral sekunder.

1. Mineral Utama

Mineral-mineral utama penyusun kerak bumi disebut mineral pembentuk terutama mineral golongan silikat. Golongan mineral berwarna tua disebut mineral mafik karena kaya magnesium dan besi. Sedangkan yang berwarna muda disebut mineral felsik yang miskin akan unsur besi atau magnesium.

a) Mineral-mineral mafik: berwarna gelap-hitam

§ Olivin

(Mg,Fe), S2On. Kadar Mg-Fe paling tinggi terdapat pada batuan basa, ultrabasa, dan batuan beku dengan kadar silika rendah. Kristal pertama mineral tidak tahan terhadap pelapukan.

§ Piroksin

Suatu seri silikat Fe-Mg. Augik adalah mineral yang paling bnyak tersebar. Berwarna hitam dan hijau hitam, berbentuk prisma pendek dengan penampang persegi delapan yang memiliki bayangan bola yang hampir tegak lurus. Berkilap kaca dan sukar digores dengan jarum baja.

§ Ampihibrol

Seri silikat Fe-Mg yang lebih banyak mengandung silikat. Hornblende adalah salah satu mineral yang penting dalam kelompok ini. Sistem kristal monoklin, berwarna hitam, hijau tua atau coklat umumnya terdapat pada batuan asam dan batuan intermedier.

§ Biosik

Salah satu mineral dari golongan mika yang tersebar luas. Berwarna hitam, coklat tua atau hijau tua. Mineral biotik dapat digunakan untuk penentuan umur dengan menggunakan potasium-argon.

b) Mineral-mineral felsik: berwarna terang

§ Plagioklas

Kumpulan sejumlah mineral dengan sistem kristal triklim. Plagioklas adalah mineral pembentuk batuan yang paling umum, yang dikenal dengan enam kombinasi mineral seperti anortit, andesin, oligoklas, dan albit.

§ K-Feldspar

Berwarna putih atau keputihan, sistem kristal monoklim atau triklim, mempunyai belahan yang baik dan dua arah. Contoh: ortoklas.

§ Muskovit

Berwarna muda sampai tidak berwarna, sistem kristal monoklim, belahan sempurna berlembar, banyak terdapat pada batuan granit, metamorf dan batu pasir.

§ Kuarsa

Sering disebut silika. Terbentuk pada temperatur diatas 573 °C memiliki bentuk setangkap piramida dengan jumlah bidangnya 12. Di bawah temperatur tersebut, terbentuk prisma yang memiliki 6 buah bidang dengan piramida pada salah satu ujungnya. Bersifat tembus cahaya, tidak berwarna, dan apabila terdapat ion renik dapat berwarna jingga atau ungu yang dipergunakn sebagai permata.

§ Feldspatoid

Mineral yang tidak jenuh SiO2, berwarna abu-abu, kilap kaca, atau lemak, pecahannya tidak merata dan tidak tergores jarum baja. Penampangnya berbentuk persegi delapan, contohnya adalah leusit.

Mineral-mineral di atas terutama terdapat pada batuan beku. Mineral yang terdapat pada batuan sedimen, antara lain:

§ Klasik

Suatu karbonat yang terutama menyusun batu camping. Berwarna abu-abu, mudah tergores jarum baja, tetapi tidak tergores oleh kuku.

§ Gipsum

Merupsksn mineral golongan sulfat yang ditemukan dibeberapa tempat di kerak bumi berwarna putih atau jernih dan mudah digores oleh kuku.

2. Mineral Tambahan

Mineral-mineral yang terbentuk oleh kristalisasi magma, terdapat dalam jumlah yang sedikit sekali, umumnya kurang dari 5%. Kehadirannya atau ketidakhadirannya tidak menentukan sifat atau nama dari batuan. Contoh : mineral magnetit (Fe3O4). Sebuah oksida besi yang berwarna hitam mempunyai sifat magnetik kuat dan terdapat dalam jumlah sedikit pada batuan beku.

3. Mineral Sekunder

Mineral sekunder adalah mineral-mineral yang dibentuk oleh mineral-mineral utama oleh proses pelapukan, sirkulasi air atau larutan dan metamorfosa. Contohnya mineral klorit yang biasanya terbentuk dari mineral biotik oleh proses pelapukan.

BATUAN

A. Pengertian Batuan dan Mineral

Batuan merupakan zat padat yang menyusun kerak bumi atau bagian terluar kulit bumi. Batuan meliputi segala macam materi yang menyusun kerak bumi, baik padat maupun lepas seperti pasir atau debu. Batuan sendiri tersusun oleh partikel-partikel terkecil yang diskrit yang disebut mineral..

B. Jenis-jenis Batuan dan Mineral

1. Jenis-jenis batuan

Dari jenis batuan dapat digolongkan menjadi 3 jenis, yaitu :

a. Batuan Beku

Batuan beku sering disebut igneous rocks yaitu batuan yang terbentuk dari satu atau beberapa mineral dan terbentuk akibat pembekuan dari magma penggolongan batuan beku dapat didasarkan pada 3 patokan utama yaitu:

1) Pembagian berdasarkan Senyawa Kimia yang terkandung dan berdasarkan susunan mineraloginya. Batuan beku disusun oleh senyawa-senyawa kimia yang membentuk mineral. Salah satu klasifikasi batuan beku dari kimia adalah dari senyawa oksidanya seperti Fe2O3, MgO, CaO, Na2O, dll. Analisis kimia batuan dapat diperguanakan dasar untuk menentukan jenis magma, kedalaman magma asal, pendugaan temperatur pembentuk magma dan sebagainya.

Kandungan senyawa kimia bahan ekstruktif identik dengan batuan instrusif, asalkan dalam satu kelompok. Hal ini hanya berbeda terdapat terbentuknya saja, sehingga menimbulkan pula perbedaan di dalam dasar butir dari setiap jenis mineral.

Batuan Instrusif

Batuan Ekstrusif

Granit

Syenit

Dionit

Tonalit

Monsonik

Gabro

Riolit

Trahkit

Andesit

Dasit

Latit

Basal

Pembagian batuan beku berdasarkan kandungan silika

Nama Batuan

Kandungan Silika

Batuan asam

Batuan menengah

Batuan basa

Batuan ultra basa

³ 66 %

52-66 %

45-52%

≤45%

2) Pembagian batuan beku berdasarkan mineralogi

Pembagian batuan beku berdasarkan kandungan mineral dibagi menjadi 4 jenis mineral, yaitu kuarsa (Q), alkali feldpar (A), plagioklos (P), feldspatis (F). Klasifikasi batuan beku yang dibuat oleh Russel B. Travis (1955) dalam klasifikasi ini tekstur batuan beku yang didasarkan pada ukuran butiran mineralnya dapat dibagi menjadi:

a) Batuan dalam

Bertekstur feneritik yang berarti mineral-mineral yang menyusun batuan tersebut dapat dilihat dengan mata biasa tanpa bantuan alat pembesar.

b) Batuan gang

Bertekstur porfiritik dengan masa dasar faneritik.

c) Batuan lelehan

d) Bertekstur afaritik, dimana individu mineralnya tidak dapat dibedakan atau tidak dapat dilihat dengan mata biasa.

3) Pembagian berdasarkan genetik batuan

Penggolongan ini berdasarkan genesa atau tempat terjadinya dari batuan beku. Pembagian genetik batuan beku adalah sebagai berikut:

a) Batuan Ekstrusif

Batuan Ekstrusif atau batuan beku vulkanik umumya terbentuk dari pembekuan magma yang sangat cepat (misalnya akibat letusan gunung api) sehingga mineral penyusunya lebih kecil.

Ada dua tipe magma ekstrusif, yaitu:

1) Tipe pertama memiliki kandungan silika yang rendah dan vikositas relatif rendah, contohnya lava basaltik. Lava basaltik mempunyai sifat sangat cair sehingga bila sampai ke permukaan akan menyebar dengan daerah yang sangat luas.

2) Tipe kedua memiliki kandungan silika yang sangat tinggi dan vikositas relatif tinggi. Akibat dari vikositas ini bila sampai ke permukaan akan menjadi suatu aliran sepanjang lembah. Lava tipe ini bersifat asam. Vikositas yang tinggi dan terbentuknya urat-urat pusat,ini merupakan akibat letusan gunung api dan berhubungan dengan lava. Lapisan dari butiran yang halus berasal dari debu vulkanik, sedangkan campuran antara batuan vulkanik disebut piroklastik. Percampuran dari fragmen batuan seperti debu dan fragmen batuan membentuk taf.

b) Batuan Instrusif

Batuan Instrusif atau batuan beku plutonik umumnya terbentuk dari pembekuan magma yang relatif lebih lambat sehingga mineral-mineral penyusunya relatif besar.

Ada 3 prinsip dari tipe bentuk instrusif batuan beku yaitu:

1) Bentuk tidak beraturan. Pada umumnya berbentuk diskordam (bentuk kontaknya kontras) dan biasanya memiliki bentuk yang lepas di permukaan bumi. Sepanjang melintang dari tubuh pluton (instrusif dengan bentuk tidak beraturan) memperlihatkan bentuk yang sangat besar dengan kedalaman yang tidak diketahiu batasnya. Sebagai contoh batolit dan stok. Batolit memiliki luas permukaan sampai 100 km2. Sedangkan stok memiliki sifat yang hampir sama dan hanya jauhberbeda pada ukurannya.

2) Instrusif berbentuk tabular, mempunyai dua bentuk yang berbeda yaitu Dike (retas) mempunyai bentuk diskordam. Dike adalah instusif yang memotong bidang pelapisan dari batuan induk. Kenampakan di lapangan dapat berukuran sangat kecil dan dapat pula berukuran sangat besar. Sil mempunyai bentuk konkordam (kontaknya sejajar dengan lapisan batuan) batuan sedimen. Sil adalah lempengan batuan beku yang diinstrusikan diantara dan sepanjang lapisan batuan sedimen. Ketebalanya dari beberapa mili meter sampai beberapa kilometer. Penyebarannya ke arah lateral sangat luas dan ke arah vertikal sangat kecil. Sebagai contoh: lakolit dan lapolit. Lakolit merupakan bentuk batuan beku yang perbandingan ketebalannya jauh lebih besar dibandingkan dengan bentuk seperti lensa dimana bagian tengahnya melengkung

3) Instrusid berbentuk pipa, relatif memiliki tubuh yang kecil, hanya pluton-pluton diskordam. Bentuk yang khas dari tipe ini adalah instrusif silinder atau pipa. Sebagian besar merupakan sisa dari korok suatu gunung api tua, bisa disebut vulkanik nek, yaitu suatu massa batuan beku yang berbentuk silinder, kemungkinan berukuran besar, tetapi kedalamanya tidak diketahui. Massanya mengisi saluran gunung api, umumnya mempunyai sumbu tegak lurus atau condong ke arah tegak.

b. Batuan Sedimen

Batuan sedimen (sedimentary rocks) adalah batuan yang terbentuk akibat proses pembatuan atau lithifikasi dari proses pelapukan dari erosi yang kemudian tertransportasi dan seterusnya terendapkan. Berdasarkan cara terbentuknya batuan sedimen dapat digolongkan menjadi:

2. Batuan sedimen detritus (klastik)

Batuan sedimen klastik terbentuk melalui proses pengendapan dari material-material yang mengalami proses transportasi. Yang termasuk batuan sedimen klastik adalah:

a) Breksi, dapat terjadi pengendapan langsung dari ledakan gunung api disekitar gunung dan dapat juga diendapkan di lingkungan air seperti sungai, danau, atau laut. Biasanya ukuran butir breksi lebih besar dati 22 milimeter dengan bentuk butiran yang bersudut.

b) Konglomerat,diendapkan di lingkungan sungai. Ukuran butir konglomerat lebih besar dari 2 milimeter dengan bentuk butiran yang membundar.

c) Batuan batu pasir, dapat terjadi di lingkungan laut, danau, sungai maupun delta. Ukuran butirannya antara 1/16 milimeter sampai 2 milimeter.

d) Batuan lanau, berukuran butir antara sampai 1/256 milimeter sampai 1/16 milimeter

e) Batuan lempung, berukuran butir lebih kecil dari 1/256 milimeter.

2. Batuan sedimen evaporit

Batuan sedimen evaporit terbentuk dengan adanya air yang memiliki larutan kimia yang cukup pekat. Pada umumnya batuan ini terbentuk di lingkungan darat atau laut yang tertutup, sehingga sangat mungkin selalu terjadi pengayaan unsur-unsur tertentu, sebagai contoh nya adalah batu garam, gip, anhidrit, dll.

3. Batuan sedimen batu bara

Batuan sedimen ini terbentuk dari unsur-unsur organik yaitu dari tumbuh-tumbuhan. Dimana sewaktu tumbuhan tersebut mati dengan cepat tertimbun oleh sustu lapisan yang tebal diatasnya sehingga tidak memungkinkan untuk terjadi pelapukan.

4. Batuan sedimen silika

Batuan ini terdiri dari rijang (chert), radiolaria dan tanah diatom. Proses terbentuknya batuan ini adalah gabungan antara proses organik seperti radiolaria atau diatom dan proses kimiawi untuk lebih menyempurnakannya. Batuan ini tersebarnya hanya sedikit dan terbatas sekali.

5. Batuan sedimen karbonat

Batuan ini umumnya terbentuk dari kumpulan cangkang moluska, alga, foraminifera dan lainnya yang bercangkang kapur. Proses ini biasa terjadi di lingkungan laut litoral sampai neritik. Batuan ini juga dapat terjadi melalui proses pengendapan yang merupakan rombakan dari batuan yang terbentuk lebih dahulu dan diendapkan disuatu tempat, yaitu laut neritik sampai batial. Contohnya: batu gamping terumbu, terbentuk karena batuan tersusun oleh material terumbu koral.

a. Batuan Metamorfosa

Batuan metamorfosa (batuan melihan) adalah batuan yang terbentuk akibat proses perubahan temperatur dan atau tekanan dari batuan yang telah ada sebelumnya. Akibat bertambahnya temperatur dan atau tekanan, tekstur dan strukturnya sehingga membentuk batuan baru dengan tekstur dan struktur yang baru pula. Contohnya batu sabak atau slate yang merupakan perubahan batu lempung. Batu marmer yang merupakan batu sabak. Perubahan dari batu gamping. Batu kuarsit yang merupakan perubahan dari batu pasir. Batuan metamorfosa dapat dibagi menjadi 3 yaitu:

1) Metamorfosa termal disekitar suatu instrusi magma dimana panas memegang peranan dan fluida-fluida.

2) Metamorfosa dinamis (kalaklstik) disekitar dislokasi dimana tekanan memegang peranan.

3) Metamorfosa regional, kedua efek baik panas maupun tekanan memegang peranan penting.

No comments