Breaking News

LAPORAN PRAKTIKUM PENGANTAR OSEANOGRAFI "PROFIL PANTAI"

LAPORAN PRAKTIKUM PENGANTAR OSEANOGRAFI

PROFIL PANTAI

NAMA : Mohammad Muhibbul Ibad

NRP : 1509100009

KELOMPOK : I

DOSEN PENGAMPU : DIAN SAPTARINI M. Sc

PROGRAM STUDI BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER

SURABAYA

BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Laut adalah bagian yang paling banyak menutupi bumi kita, kurang lebih 71% dari permukaan bumi ini adalah merupakan lautan, laut juga memiliki karakter yang berbeda di setiap sudut di dunia, sehingga bermacacam-macam biota laut yang terdapat pada lautan, dari karakter laut yang berbeda tersebut maka lingkungan laut dapat dibagi-bagi menjadi zona-zona yang berbeda, dari zona-zona tersebut dapat diketahui macam-macam profil laut dan pantai.

Kondisi laut yang berbeda-beda tersebut menyebabkan daerah pantai juga terpengaruh, sehingga pantai-pantai di setiap sudut bumi ini memiliki profil yang berbeda-beda, namun masih memiliki kesamaan, perbedaan tersebut bisa disebabkan perbedaan kekuatan gelombang laut, atau juga perbedaan batuan penyusun dari pantai tersebut, daerah pantai jika dibagi menurut tingkat kelandaiannya dibagi menjadi tiga, yaitu Continental Shelf, Continental Slope, dan continental Rise, dimana daerah yang paling curam adalah Continental Slope, kemiringan dari Continental Slop ini bervariasi antara 3% - 6%.

1.2Permasalahan

Permasalahan yang akan dibahas dalam percobaan ini adalah bagaimanakah cara mengetahui profil suatu wilayah pesisir.

1.3Tujuan

Tujuan dari praktikum profil pantai adalah agar dapat mengetahui profil pantai suatu wilayah pesisir.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Pantai dan Pesisir

Pantai merupakan suatu wilayah yang dimulai dari titik terendah air laut waktu surut hingga ke arah daratan sampai batas paling jauh ombak/gelombang menjulur ke daratan. Jadi daerah pantai dapat juga disebut daerah tepian laut. Dalam bahasa Inggris pantai disebut dengan istilah “shore” atau “beach”. Adapun tempat pertemuan antara air laut dan daratan dinamakan garis pantai (shore line). Garis pantai ini setiap saat berubah-ubah sesuai dengan perubahan pasang surut air laut.

Wilayah tepian laut seperti gambar tersebut bentuknya bermacam-macam, ada yang landai dan ada pula yang curam. Tepian laut yang landai ini ada yang berpasir dan ada pula yang berlumpur. Tepian laut yang curam seperti dinding batu disebut “cliff”, pantai berpasir disebut gisik atau “sand beach” dan pantai berlumpur disebut “mud beach”.

Pesisir adalah suatu wilayah yang lebih luas dari pada pantai. Wilayah pesisir mencakup wilayah daratan sejauh masih mendapat pengaruh laut (pasang surut dan perembasan air laut pada daratan) dan wilayah laut sejauh masih mendapat pengaruh dari darat (aliran air sungai dan sedimen dari darat). Jadi jika Anda dari kejauhan masih mendengar deburan ombak dan merasakan hembusan angin laut, daerah tersebut masih disebut pesisir. Menurut Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional (BAKOSURTANAL) batas wilayah pesisir ialah daerah yang masih ada pengaruh kegiatan bahari dan sejauh konsentrasi (desa) nelayan (Anonim, 2005).

2.2 Lingkungan Laut

Laut merupakan bagian dari permukaan bumi yang memiliki wilayah air asin yang sangat luas dan terpisah dengan daratan. Wilayah laut ini menempati 2/3 atau 71% dari permukaan bumi (Anonim, 2005).

2.3 Jenis Pantai di Indonesia

Kondisi dan jenis pantai di Indonesia secera sederahana dapat dikelompokan atas pantai berpasir, pantai berlumpur, pantai berawa dan pantai berbatu (Anonim, 2008).

2.3.1 Pantai Berpasir

Pantai berpasir merupakan pantai yang didominasi oleh hamparan atau dataran pasir, baik yang berupa pasir hitam, abu-abu atau putih. Selain itu terdapat lembah-lembah diantara beting pasir.jenis tanah dipantai adalah typic tropopsamment dan typic tropofluvent. Pantai berpasir tidak menyediakan subatrat tetap untuk melekat bagi organisme, karena aksi gelombang secara terus menerus menggerakan partikel substrat. Dua kelompok ukuran organisme yang mampu beradaptasi pada kondisi substrat pasir : organisme infauna makro (berukuran 1-10 cm) yang mampu menggali liang di dalam pasir dan organisme meiofauna mikro (berukuran 0,1-1 mm) yang hidup di antara butiran pasir.

Pantai berpasir umumnya dijadikan kawasan pariwisata pantai karena keindahan alamnya. Kawasan pantai berpasir yang sudah berkembang misalnya : kawasan pantai Sanur dan Kuta (Bali), Pantai Pangandaran, Carita & Pelabuhan Ratu (Jawa Barat), Parang Tritis (Yogyakarta), Pantai Natsepa & Liang (Maluku). Tumbuhan yang dominan tumbuh adalah kelapa (Cocos nucifera), cemara laut (Casuarina equisetifolia), waru laut (Hibiscus tiliaceus) dan ketapang (Terminalia catappa).

Pada daerah pantai berpasir juga terdapat perbedaan pada butiran pasir, ditemukan pantai berpasir kasar dan pantai berpasir halus. Dibawah ini penjelasan perbedaan pantai berpasir kasar dan halus.

Tabel 1. Perbedaan Pantai Berpasir Kasar dan Halus

Pantai berpasir kasar

Perbedaan

Pantai berpasir halus

Curam

Kemiringan

Landai

Tinggi

Aksi gelombang

Rendah

Rendah

Kapilaritas

Tinggi

Tinggi

Permeabilitas

Rendah

Tinggi

Oksigen

Rendah

Sedikit

Bakteri

Banyak

Rendah

Bahan Organik

Tinggi

(Anonim, 2008).

2.3.2 Pantai Berlumpur

Pantai berlumpur merupakan hamparan lumpur sepanjang pantai yang dihasilkan dari proses sedimentasi atau pengendapan, biasanya terletak di dekat muara sungai. Lumpur tersebut terdiri atas partikel-partikel halus yang mengandung humus atau gambut. Tanah pantai ini mempunyai kandungan oksigen yang rendah dan hanya terdapat pada lapisan permukaan. Sedangkan kandungan asam sulfidanya cukup tinggi sehingga dapat mereduksi senyawa besi (ferri) di dalam tanah menjadi senyawa ferrosulfida (FeS2) atau firit.

Tanah pantai berasal dari endapan lumpur yang dibawah oleh aliran sungai. Lumpur yang berasal dari laut mengandung cangkang-cangkang foraminifera, fragmen-fragmen karang, cangkang molusca dan bahan lain yang menjadi sumber kapur yang penting bagi pantai berlumpur.

Struktur dan komposisi tumbuhan di kawasan pantai berlumpur Indonesia merupakan formasi hutan mangrove yang didominasi oleh Rhizophora sp., Avicennia sp., Bruguiera sp., Ceriops tagal., Sonneratia sp., dan Xylocarpus sp (Anonim, 2008).

2.3.3 Pantai Berawa

Pantai berawa merupakan daerah yang tergenang air, baik secara permanen ataupun temporer. Tanah dan air pantai ini memiliki tingkat keasaman yang tinggi. Hutan berawa umumnya ditumbuhi oleh jenis tumbuhan seperti nipah (Nypa fruticans), nibung (Oncosperma tigillaria), sagu (Metroxylon sago), medang (Decassia cassia), jelutung (Dyera sp.), dll (Anonim, 2008).

2.3.4 Pantai Berbatu

Pantai berbatu umumnya terdiri dari bongkahan-bongkahan batuan granit. Pantai ini merupakan satu dari lingkungan pesisir dan laut yang cukup subur. Kombinasi substrat keras unutk penempelan, seringnya aksi gelombang dan perairan yang jernih menciptakan suatu habitat yang menguntungkan bagi biota laut. Pantai berbatu mnejadi habitat bagi berbagai jenis moluska (kerang), bintang laut, kepiting, anemon dan ganggang laut.

Hutan pada pantai ini umumnya tergolong formasi butun (Baringtonnia). Pantai ini langsung ke laut dan tidak berpasir (Anonim, 2008).

2.4 Batas – batas Pantai

Daerah peralihan antara daratan dan lautan sering ditandai dengan adanya perubahan kedalaman yang berangsur-angsur. Disini dapat dikenal dan dibedakan adanya tiga buah daerah.

1. Continental Shelf

Suatu daerah yang mempunyai lereng yang landai (kemiringan kira-kira sebesar 0,4 %) dan berbatasan langsung dengan daerah daratan.

2. Continental Slope

Suatu daerah yang mempunyai lereng yang lebih terjal dari continental shelf, dimana kemiringannya bervariasi antara 3 % - 6 %.

3. Continental Rise

Daerah ini merupakan daerah yang mempunyai lereng yang kemudian perlahan-lahan menjadi datar pada dasar lautan (Hutabarat, 1985).

2.5 Proses Erosi Pantai

Pantai adalah gambaran nyata interaksi dinamis antara air, angin, dan material (tanah). Angin dan air yang bergerak membawa material dari tempat satu ke tempat lain, mengikis tanah dan kemudian mengendapkannya di suatu tempat secara kontinyu sehingga terjadi perubahan garis pantai.

Energi yang diperoleh untuk gerak air dan angina sebagian berasal dari pemanasan sinar matahari dan sebagian lagi berasal dari gaya-gaya gravitasi matahari, bulan dan bumi. Angin atau udara yang berpindah terjadi akibat adanya perubahan tekanan udara.

Rentang (range) pasang surut dan kekuatan arus pasang surut ditentukan oleh kombinasi efek gravitasi matahari, bulan dan bumi. Misalnya, ‘spring tide’ yang terjadi ketika kombinasi matahari dan bulan hampir segaris, akan menghasilkan efek pasang tertinggi dan surut terendah.

Gelombang terjadi karena hembusan angin di permukaan air. Daerah di mana gelombang dibentuk disebut daerah pembangkitan gelombang (wave generating area). Ketika gelombang menjalar, partikel air bergerak dalam suatu lingkaran vertikal kecil dan tetap pada posisinya selagi bentuk dan energi gelombang berjalan maju. Pada saat gelombang mendekati pantai, gelombang mulai bergesekan dengan dasar laut dan menyebabkan pecahnya gelombang di tepi pantai. Hal ini menyebabkan terjadinya turbulensi yang kemudian membawa material dari dasar pantai atau menyebabkan terkikisnya bukit-bukit pasir (dunes) di pantai.

Jenis-jenis atau tipe pantai berpengaruh pada kemudahan terjadinya erosi pantai. Berikut adalah penggolongan pantai di Indonesia berdasarkan tipe-tipe paparan (self) dan perairan:

1) Pantai Paparan

Merupakan pantai dengan proses pengendapan yang dominan. Umum terdapat di pantai utara Jawa, pantai timur Sumatra, pantai Selatan dan Timur Kalimantan, dengan karateristik:

a. Muara sungai memiliki delta, airnya keruh mengandung lumpur dan terdapat proses sedimentasi.

b. Pantainya landai dengan perubahan kemiringan (hingga kea rah laut) yang bersifat gradual dan teratur.

c. Daratan pantainya dapat lebih dari 20 km.

2) Pantai Samudera

Merupakan pantai di mana proses erosi lebih dominant. Umum terdapat di pantai selatan Jawa, pantai barat Sumatra, pantai utara dan timur Sulawesi, dan pantai utara Irian jaya, dengan karakteristik:

a. Muara sungai berada dalam teluk

b. Batas antara daratan pantai dan garis pantai sempit

c. Kedalaman pantai ke arah laut berubah tiba-tiba (curam).

3) Pantai Pulau

Merupakan pantai yang melingkari/mengelilingi pulau kecil. Dibentuk oleh endapan sungai, batu gamping, endapan gunung berapi dan endapan lainnya. Umum terdapat di Kepulauan Riau, Kepulauan Seribu, Kepulauan Nias dan Sangihe Talaud (Agus, 1997).

BAB III

METODOLOGI

3.1 Alat

Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah meteran, meteran jahit, tali raffia, alat tulis, water pass, dan patok kayu.

3.2 Bahan

Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah pantai Kenjeran desa Nambangan.

3.3 Cara kerja

Lokasi yang representative untuk trasek ditentukan. Kemudian dibuat garis transek lurus menggunakan bantuan tali raffia dari pasang tertinggi (titik nol) menuju perairan sejauh 20 meter. Setelah itu, plot setiap 2 meter sepanjang garis transek dari titik nol dengan cara memathok dengan batas tinggi yang sama. Tinggi patok diukur dari ujung sampai permukaan tanah pada setiap plot. Data-data yang diperoleh dimasukkan ke dalam tabel kemudian dibuat grafik perubahan bentuk pantai tersebut sesuai dengan data yang telah didapatkan.

BAB IV

ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

4.1 Data Pengamatan

Lokasi : Pantai Kenjeran (desa Nambangan)

Hari : Sabtu, 4 April 2008

Pukul : 07.30 Pagi

Cuaca :Cerah

Koordinat : 7º,2.257’LS dan 112º,78.873’BT

Tabel 4.1 Analisis Topografi Pantai

No.

Jarak (m)

X = Tinggi Patok (m)

Tinggi Perubahan (h0 - X)(m)

0

0

0 (ho)

0

1

2

0,29

-0,29

2

4

0,45

-0,45

3

6

0,73

-0,73

4

8

1,00

-1,00

5

10

1,21

-1,21

6

12

1,43

-1,43

7

14

1,62

-1,62

8

16

1,70

-1,70

9

18

1,82

-1,82

10

20

2,10

-2,10

4. 2 Pembahasan

Praktikum berjudul profil pantai ini dilakukan di pantai Kenjeran, desa Nambangan Surabaya, 7º,2.257’LS dan 112º,78.873’BT pada pukul 07.30 WIB tanggal 4 April 2008. Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui profil pantai wilayah pesisir khususnya pada pantai Kenjeran, desa Nambangan. Praktikum ini dilakukan dengan cara menentukan lokasi yang tepat untuk transek. Kemudian menentukan titik nol yang akan dijadikan patokan untuk memasang patok kayu, pada titik nol ini ditempatkan pada pasamh tertinggi pantai, kemudian dengan patok dibuat garis transek lurus, dengan jarak antar patok 2 meter dan garis penarikan tali sepanjang 20 meter. Seiap pemasangan patok diberi tali rafia yang lurus dari pusat acuan yaitu titik 0 dan dipasang tegak lurus dengan patok, yaitu 90º, dalam mengukur kemiringan tersebut digunakan water pass. Diukur selisih dari garis 0 dan hitung ketinggiannya, lalu dimasukkan dalam data pengamatan.

Dari data yang diperoleh,dapat digambarkan bahwa semakin ke tengah laut , maka perubahan tinggi permukaan air yang ditunjukkan oleh patok dan tali rafia semakin besar. Hal ini menunjukkan bahwa profil pantai pada pesisir pantai kenjeran adalah profil pantai yang landai. Dari grafik dapat dilihat bahwa derajat kemiringan dari Pantai Kenjeran < 600 sehingga dapat dikatakan landai. Pantai Kenjeran didominasi oleh pasang surut sehingga pada permukaan sedimen dan pasir memiliki butiran yang halus.

Pantai kenjeran merupakan pantai pasir berlumpur, karena pada pinggir pantai tampak pasir mendominasi, sedangkan pada bagian tengah pantai yang mendominasi adalah lumpur. Dan juga bila di amati pada pengambilan sampel dari laut memperlihatkan bagian tengah pantai Kenjeran merupakan pantai berlumpur. Perbedaan antara pantai berpasir dengan pantai berlumpur sangat tipis atau sulit untuk dibedakan, namun garis batas yang jelas antara pantai yang berbatu dan pantai yang berpasir, dapat diketahui dengan jelas.

Profil pantai sangat dipengaruhi oleh arus laut, konfigurasi dasar perairan dan butiran-butiran sedimen di pantai. Di perairan dangkal, arus laut dapat dibangkitkan oleh gelombang laut angin yang berhembus dan pasang surut. Pantai yang didominasi gelombang besar cenderung memiliki profil pantai yang lebih curam karena tergerus oleh abrasi dari gelombang besar, sementara pantai yang gelombangnya disebabkan pasang surut cenderung memiliki profil pantai yang lebih landai karena memungkinkan adanya pembentukan sedimen yang halus, tanpa adanya gelombang besar yang terjadi.

Kesulitan dari praktikum ini adalah ketika penentuan datarnya tali rafia yang digunakan untuk mengetahui topografi pantai, karena kemiringan dari tali rafia ini haruslah 90º dari patok yang digunakan, dimana patok ini juga harus ditancapkan lurus, jadi dalam penentuan ini haruslah digunakan Water pass, penggunaan Water pass ini bisa dilakukan dari jarak jauh, dan tidak perlu berdekatan dengan tali rafia, karena akan lebih mudah apabila kita mengecek tingkat kedatarannya dari jauh. Pada saat penncapan patok terakhir, garis lurus yang dibuat oleh rafia lebih dari puncak tertinggi dari patok, sehingga patok yang diperkirakan tingginya cukup, menjadi tidak dapat digunakan pada bagian terakhir ini, jadi diperlukan bantuan praktikan untuk mengecek bagian terakhir ini, hal ini disebabkan posisi pada saat pengukuran ini memiliki topografi yang landai namun kemudian terdapat turunan yang cukup drastis, sehingga tinggi patok yang digunakan tidak mencukupi.

BAB V

KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum ini adalah, pantai Kenjeran merupakan pantai dengan profil pantai yang landai dan merupakan pantai pasir berlumpur, dimana profil ini dipengaruhi oleh pasang surut .

DAFTAR PUSTAKA

Agus P., W.1997. Perencanaan Fasilitas Pantai dan Laut.ITS : Surabaya

Anonim.2005.www.e-dukasi.net/mol/mo_full.php?moid=99&fname=geox0804.htm.diakses April 2008

Anonim.2008.inani.tripod.com/pantai.htm.diakses April 2008

Anonim.2008.mursitoledi.multiply.com/journal/item/1/jurnal_ilmu_kesuburan_tanah.diakses April 2008

Hutabarat, S., dan Stewart M. E. 1985. Pengantar Oseanografi. UI-press: Jakarta

1 comment: