Breaking News

LAPORAN PRAKTIKUM PENGANTAR OSEANOGRAFI "PLANKTON"

PLANKTON


Muhammad Muhibbul Ibad (1509100009)

PROGRAM STUDI BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA

2010


ABSTRAK

Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan antara fitoplankton dan zooplankton, mengidentifikasi fitoplankton dan zooplankton yang ditemukan di laut kenjeran, serta untuk mengetahui peranan plankton dalam ekosistem laut. Plankton dibagi menjadi dua yakni fitoplankton dan zooplankton. Fitoplankton adalah tumbuhan yang mengandung pigmen klorofil yang mampu melaksanakan reaksi fotosintesis dimana air dan karbon dioksida dengan adanya sinar surya dan garam-garam hara dapat menghasilkan senyawa organik seperti karbohidrat sedangkan zooplankton adalah hewan mikroskopis yang hidupnya tergantung pada arus air laut dan memiliki bentuk yang bermacam-macam. Berdasarkan identifikasi sampel fitoplankton lebih banyak ditemukan daripada zooplankton.

Keyword : fitoplankton, zooplankton, mikroskopis


PENDAHULUAN

Latar Belakang

Membahas tentang laut yang merupakan 2/3 bagian bumi tentu takkan lepas dari organisme yang bernama plankton. Rantai makanan pada ekosistem laut salah satu berawal dari plankton. Plankton didefinisikan sebagai organisme hanyut apapun yang hidup dalam zona pelagik (bagian atas) samudera, laut, dan badan air tawar. Secara luas plankton dianggap sebagai salah satu organisme terpenting di dunia, karena menjadi bekal makanan untuk kehidupan akuatik.

Bagi kebanyakan makhluk laut, plankton adalah makanan utama mereka. Plankton terdiri dari sisa-sisa hewan dan tumbuhan laut. Ukurannya kecil saja. Walaupun termasuk sejenis benda hidup, plankton tidak mempunyai kekuatan untuk melawan arus, air pasang atau angin yang menghanyutkannya.

Plankton hidup di pesisir pantai di mana ia mendapat bekal garam mineral dan cahaya matahari yang mencukupi. Ini penting untuk memungkinkannya terus hidup. Mengingat plankton menjadi makanan ikan, tidak mengherankan bila ikan banyak terdapat di pesisir pantai. Itulah sebabnya kegiatan menangkap ikan aktif dijalankan di kawasan itu.

Selain sisa-sisa hewan, plankton juga tercipta dari tumbuhan. Jika dilihat menggunakan mikroskop, unsur tumbuhan alga dapat dilihat pada plankton. Beberapa makhluk laut yang memakan plankton adalah seperti batu karang, kerang, dan ikan paus.

Tujuan

Praktikum ini bertujuan agar praktikan mengetahui dan memahami terminologi dan klasifikasi biota plankton,mampu melaksanakan metode standard pengambilan dan analisis sampel plankton,mampu membedakan fitoplankton dan zooplankton, dan mampu melakukan penghitungan sederhana kelimpahan plankton.

Permasalahan

Pada praktikum kali ini permasalahan yang dibahas adalah bagaimana cara memahami plankton berserta klasifiksinya dan bagaimana cara pengambilan dan analisis sampel palankton dengan metode yang standard.

METODOLOGI

Pengambilan sample plankton dilakukan di Pantai Kenjeran. Pertama-tama titik sampling ditentukan dan dicatat koordinatnya menggunakan GPS. Sample plankton didapat dari penyaringan air laut menggunakan plankton net. Pengambilan sample pertama digunakan untuk analisis zooplankton, sedangkan pengambilan sample kedua digunakan untuk analisis fitoplankton. Masing- masing pengambilan sample plankton dilakukan dengan 3 kali pengulangan. Metode yang digunakan adalah metode lempar-tarik. Pertama- tama ditentukan pengambilan sample zooplankton. Plankton net dilempar sejauh- jauhnya hingga mulut plankton net tercelup air seluruhnya. Plankton net ditarik segera setelah semua bagian tercelup air. Setelah 3 kali pengulangan tepi- tepi plankton net disemprot menggunakan sprayer yang telah diisi air laut yang sama. Sample yang tertampung dalam bucket plankton net dimasukkan ke dalam botol sample dan di awetkan dengan formalin 5%. Sample diberi label menggunakan kertas label. Perlakuan sama juga diberikan pada pengambilan sample fitoplankton.

Analisis sample plankton dilakukan di laboratorium menggunakan 2 jenis mikroskop. Mikroskop compound untuk analisis fitoplankton dan mikroskop stereo untuk analisis zooplankton. Pertama- tama sample dalam botol sample dikocok perlahan. Sample fitoplankton di teteskan mengunakan pipet ke dalam counting chamber/ sedwick rafter, ditutup dengan kaca penutup diusahakan agar tidak ada gelembung udara di dalamnya. Sample diamati dengan perbesaran 100x. Sample zooplankton dimasukkan dalam petri dish dan diamati dengan mikroskop stereo. Seluruh plankton yang teramati digambar dan diidentifikasi kelasnya.

PEMBAHASAN

Pada pratikum ini bertujuan untuk memahami terminologi dan klasifikasi biota plankton, melaksanakan metode standard pengambilan dan analisis sampel plankton, membedakan fitoplankton dan zooplankton, serta mampu melakukan penghitungan sederhana kelimpahan plankton.

Dalam pratikum ini untuk pengambilan sampel dilakukan di Pantai Kenjeran pada tangal 27 Maret 2010 menggunakan plankton net. Tahap pertama adalah menentukkan titik sampling yang representif dan direkam posisi geografisnya dengan GPS sehingga diperoleh data GPSnya adalah south 07014’10,3” dan east 112047’49,2”. Setelah itu, plankton net dilempar ke arah laut guna memperoleh plankton yang berada di substrat. Kemudian, disaring dengan plankton net.


Gambar 1. Small standard net dan bagian-bagiannya

Setelah proses penyaringan, bagian luar plankton net disemprot (dengan menggunakan sprayer) dengan air yang diambil dari lokasi sampling. Perlakuan ini bertujuan agar sampel plankton yang melekat pada dinding net dapat terkumpul semua kedalam botol penampungan (bucket). Selanjutnya sampel dalam bucket dipindahkan ke dalam botol koleksi seperti yang dipakai adalah botol film dan diawtkan dalam formalin 5 %, gunanya agar sampel yang diperoleh tetap awet fisiooginya serta histologinya dalam kurun waktu yang cukup lama. Terakhir diberi label penanda pada botol sampel.

Untuk menganalisis plankton, dilakukan di laboratorim. Namun sebelum menganalisis plankton, disiapkan terlebih dahulu mikroskop karena pada analisis plankton ini menggunakan mikroskop stereo karena plankton tidak dapat dilihat dengan jelas dengan mata telanjang. Dengan menggunakan pipet, diambil 1 ml sampel dalam botol lalu diteteskan pada ruang sedgwick rafer / countring chamber guna melihat plankton karena tidak dapat melihat plankton serta lain dengan menggunakan gelas objek yang tidak diamati dengan banyak air padahal plankton seharusnya diamti beserta air karena plankton hidup di air, kemudian ditutup dengan kaca objek. Saat menutup tidak boleh terdapat gelembung udara pada sedgwick rafer / countring chamber agar tidak menggangu pengamatan.


Gambar 2. Sedgwik rafter

Lalu diamati dengan mikroskop yang telah disediakan tadi pada perbesaran 100 kali. Pada semua jenis fitoplankton dan zooplankton yang teramati gambar dan diidentifikasi, minimum. Akan tetapi, umunya fitoplankton berbentuk rantai sangat mudah putus sehingga pencacahan dilakukan dengan menghitung jumlah sel dalam sedwick rafter. Dalam perhitungan sel menggunakan formulasi berikut

untitled


Keterangan :

N = jumlah sel per ml3

n = jumlah sel yang dihitung dalam m tetes

m = jumlah tetes contoh yang diperiksa

s = jumlah volume sampel dengan pengawetnya (ml)

a = volume tiap tetes contoh

v = volume air tersaring (liter)

Diketahui bahwa lebih banyak fitoplankton daripada zooplankton. Hal ini akibat dari beberapa faktor diantaranya adalah salinitas, suhu, dan gerakan ombak. Apabila terjadi pasang-surut, suhu udara akan minimum (daerah sedang-dingin, kutub) atau suhu udara maksimum (tropik), sehingga batas letal terlampaui dan organisme dapat mati. Tetapi, meskipun kematian tidak segera terjadi, organisme akan menjadi semakin lemah karena suhu yang ekstrim sehingga tidak dapat menjalankan kegiatannya seperti biasa dan akan mati karena sebab-sebab sekunder. Dengan faktor suhu juga mempunyai pengaruh yang tidak langsung. Organisme laut dapat mati karena kehabisan air. Kehabisan air dipercepat dengan meningkatnya suhu. Pada zona interdal, gerakan ombak mempunyai pengaruh yang besar terhadap organisme dan komnitas dibandingkan dengan daerah-daerah laut lainnya. Pengaruh ini terlihat nyata terbalik baik secara langsung maupun tidal langsung.

Plankton adalah elemen penting dalam rantai makanan dalam ekosistem laut, khususnya fitoplankton yang dapat berfotosintesis sehingga berkedudukan sebagai produsen primer dalam rantai makanan atau arti lain dari plankton adalah makhluk (tumbuhan atau hewan) yang hidupnya mengapung, mengambang atau melayang didalam air yang kemampuan renangnya (kalaupun ada) sangat terbatas hingga selalu terbawa hanyut oleh arus (Sidabutar,2008).

Plankton memilki 2 jenis plankton yaitu zooplankton dan fitoplankton. Adapun ada perbedaan dari keduanya adalah fitoplankton merupakan tumbuh-tumbuhan sehingga dapat berfotosintesis sendiri, tidak memiliki alat gerak aktif misalnya flagel sehingga bergerak melayang-layang mengikuti gelombang dan arus laut dan kebanyakan muncul di permukaan pada siang hari untuk berfotosintesis. Sedangkan pada zooplankton, tidak melakukan fotosintesis dan dapat bergerak karena mempunyai flagell, meskipun karena berukuran sangat kecil sehingga tetap terbawa arus laut dan kebanyakan muncul pada malam hari untuk mencari makanan.

Adapun klasifikasi dari plankton adalah

1. Berdasarkan jenisnya, plankton dapat diklasifikasikan sebagi berikut :

a) Fitoplankton

Fitoplankton sebagai tumbuhan yang mengandung pigmen klorofil yang mampu melaksanakan reaksi fotosintesis dimana air dan karbon dioksida dengan adanya sinar surya dan garam-garam hara dapat menghasilkan senyawa organic seperti karbohidrat. Karena kemampuan membentuk zat organic dari zat anorganik, maka fitoplankton disebut juga dengan produsen primer.

b) Zooplankton

Berlawanan dengan fitoplankton yang didominasi oleh 2 kelompok tumbuhan, zooplankton yang merupakan anggota plankton yang bersifat hewani, sangat beraneka ragam dan terdiri dari bermacam larva dan bentuk dewasa yang mewakili hampir seluruh filum hewan. Namun demikian, dari sudut ekologi, hanya satu golongan zooplankton yang sangat penting artinya, yaitu subklas copepoda. Hewan – hewan kecil ini sagat penting artinya bagi ekonomi ekosistem-ekosistem bahari karena merupakan herbivora primer dalam laut

( Nybakken, 1988).

2. Berdasarkan ukurannya, plankton dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

organisme planktonik biasanya ditangkap dengan menggunakan jarring-jaring yang mempunyai ukuran mata jarring yang berbeda, maka penggolongan ini tidak membedakan fitoplankton dan zooplankton. Maka dengan cara ini dikenal lima golongan plankton, yaitu :

a) Megaplankton ialah organisme planktonik yang besarnya lebih dari 2,0 mm

b) Makroplanktinik ialah organisme plankton yang berukuran antara 0,2 mm – 2,0 mm.

c) Mikroplanktonik ialah organisme plankton yang berukuran 20 mikrometer – 0,2 mm.

d) Nanoplankton ialah organisme plankton yang sangat kecil yang berukuran 2 mikrometer – 20 mikrometer.

e) Ultraplankton ialah organisme planktonik yang sangat kecil yang tidak dapat dijaring oleh jarring plankton baku, melainkan harus dengan menggunakan alat penyaring yang sangat kecil pori-porinya, sepert filter milipor. Plankton ini mempunyai ukuran kurang dari 2 mikrometer ( Nybakken, 1988).

3. Berdasarkan daur hidup sebagai plankton, plankton dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

a) Holoplankton, adalah suatu organisme akuatik yang seluruh daur hidupnya bersifat planktonik.

b) Meroplankton adalah organisme – organisme akuatik yang hanya sebagian dari daur hidupnya bersifat planktonik

( Nybakken, 1988).

Adapun metode pengambilan net menggunakan macam-macam plankton net, diantaranya :

1. Mendatar (Horisontal)

Dengan cara ini plankton diambil secara mendatar (horisontal) di dalam air pada kedalaman tertentu seperti yang diinginkan. Seiring dengan bergeraknya kapal secara perlahan (sekitar 2 knot), jaring ditarik untuk jarak atau waktu yang diinginkan (biasanya sekitar 5-8 menit). Dari pengambilan cara ini akan didapatkan jumlah plankton cukup banyak walau terbatas pada satu lapisan saja. Gambar 1.1 (terlampir)

2. Menegak (Vertikal)

Pengambilan secara vertikal ini merupakan cara termudah untuk mengambil plankton dari seluruh kolom air (composite sample). Ketika kapal berhenti, jaring diturunkan pada kedalaman yang diinginkan dengan pemberat diikat dibawahnya (biasanya 10 kg untuk mulut jaring berdiameter 0,45 µm). Setelah itu jaring ditarik dengan kecepatan konstan. Untuk mata jaring halus biasanya berkecepatan sebesar 0,5 m/detik dan untuk mata jaring agak kasar adalah 1,0 m/detik. Sudut antara kawat jaring dan garis vertikal sebaiknya dicatat untuk mengetahui kedalamn pengambilan yaitu dengan menghitung cosinus a dari sudut antara kawat dan garis tegak. Gambar 1.2 (terlampir).

3. Miring (obligue)

Sebuah pemberat diikat pada bagian ujung kawat dan jaring dipasang pada jarak tertentu di atas pemberat. Jaring diturunkan dengan perlahan ketika kapal bergerak lambat (sekitar 2 knot). Besar sudut kawat dengan garis vertikal (sekitar 45º C) tetap dipertahankan sampai kawat terulur pada panjang yang diinginkan (biasanya pada kedalaman 200-300 m). Setelah mencapai kedalaman yang diinginkan, kawat beserta jaring ditarik secara perlahan dangan posisi sudut yang sama sampai tiba di atas kapal. Sampel yang diperoleh merupakan plankton yang tertangkap dari berbagai lapisan air. Kelemahan sampling dengan caara ini adalah waktu yang dibutuhkan relatif lama, kawat dan alat penggulungnya harus kuat. Gambar 1.3 (terlampir)

image029

Gambar 2. Plankton Net (Anonim, 2007)

Dalam metode pengambilan sampel, terdapad 3 macam, yaitu Pengumpulan sampel, Pengawetan sampel, dan analisis data. Dalam pengumpulan sampel telah dijelaskan di atas, sedangkan pada pengawetan sampel, Plankton yang telah dikumpulkan dengan metode yang telah diterangkan, dituang dari tabung penampung (bucket) ke dalam botol yang bermulut luas. Bahan pengawet yang biasa digunakan adalah formalin 4% yang telah dinetralkan dengan boraks. Botol diberi label yang ditempelkan pada dinding luar botol sampel (label luar) maupun label yang dimasukkan ke dalam botol tersebut (label dalam). Label dalam menggunakan kertas kalkir yang tahan air. Pada label tersebut dituliskan; nomor stasiun, posisi stasiun, tanggal dan waktu pengambilan, metode pengambilan, kedalaman dan data lain yang dianggap perlu (Romimohtarto, 2001).

Pada metode analisi data, Pencacahan plankton meliputi penghitungan jumlah sel plankton dalam suatu satuan volume. Untuk keperluan ini pertama-tama perlu dihitung dulu volume air laut yang diambil sampelnya (air tersaring), kemudian jumlah plankton dalam sampel (Romimohtarto, 2001).

KESIMPULAN

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa Fitoplankton adalah sebagai tumbuhan yang mengandung pigmen klorofil yang mampu melaksanakan reaksi fotosintesis dimana air dan karbon dioksida dengan adanya sinar surya dan garam-garam hara dapat menghasilkan senyawa organic seperti karbohidrat sedangkan zooplankton adalah merupakan anggota plankton yang beresifat hewani, sangat beraneka ragam dan terdiri dari bermacam larva dan bentuk dewasa yang mewakili hampir seluruh filum hewan. Pada pantai Kenjeran lebih banyak ditemukan fitoplankton daripada zooplankton. Fitoplankton yang paling banyak ditemukan adalah Ceratium furca sedangkan zooplankton yang paling banyak ditemukan adalah Tintinnopsis sp.

DAFTAR PUSTAKA

Nybakken, James W. 1988. “Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis”. PT. Gramedia; Jakarta

Anonim. 2002. http://www.pustaka-deptan.go.id/publication/bt072025.pdf

Romimohtarto, Kasijan & Sri Juwana . 2001. ”Biologi Laut”. Djambatan; Jakarta


LAMPIRAN 1

FITOPLANKTON

No

Foto

Literatur

Jumlah

1

ceratium_furca_dinophysis_1

Ceratium furca

41327_large

Ceratium furca

172

2

Thalassiosira

thalassiosira_large

Thalassiosira

144

3

Coscinodiscus

coscinodiscus.jpg

56

4

Pleurosigma

Pleurosigma2_p.jpg

11

5

Ceratium_fususH.jpg


Ceratium fusus

Ceratium_fusus


7


ZOOPLANKTON


No

Foto

Literatur

Jumlah

1

Lucifer sp

4

2

Larva Nauplii copepoda famili Pontellidae

Copepod nauplius.JPG

17

3

Tintinnopsis sp

images.jpg

21

LAMPIRAN 2





Gambar 1.2 Pengambilan Plankton Secara Mendatar atau Horizontal



Gambar 1.1 Pengambilan Plankton Secara Tegak atau Ventrikel






Gambar 1.3 Pengambilan Plankton Secara Miring atau Oblique




Gambar 1.4 Lokasi Pengambilan Sampel



LAMPIRAN 3

IMG_5269.JPG
IMG_5285.JPG
IMG_5271.JPG


Gambar 2. Pengambilan Sampel

di Lapangan

1 comment: